Fatimah Haffiza, seorang gadis kelas 2 SMA ini mempunyai kisah hidup yang menyedihkan namun berakhir kebahagiaan karena ke-istiqomahannya.
Fiza, ia tinggal bersama ayah dan dan ibu tirinya tentunya bersama 2 saudara kembar tirinya Helen dan Azka yang kejam. Ibu kandungnya telah lama pergi meninggalkan Fiza membuat Fiza harus hidup bersama ibu tiri dan saudara tiri yang kejam. Ayahnya juga meninggal beberapa tahun setelah ia menikah dengan ibi tirinya. Maka hiduplah Fiza sendiri sebatangkara. Meskipun ayahnya meniggalkan banyak harta untuk Fiza, namun harta tersebut dikuasai oleh ibunya. Tak sedikitpun ia mendapatkan harta dari ayah kandungnya sendiri. Namun karena Fiza tidak gila terhadap harta, ia tak mempermasalahkan itu semua, ia tetap percaya bahwa Allah akan memberinya rizki yang lebih barokah dari itu semua dengan kerja kerasnya
Fiza, Helen dan Azka mereka sama-sama kelas 2 di sebuah SMA, namun kehidupan Fiza sangat berbeda dengan ke dua saudara kembarnya tersebut.
Ibu tirinya tak memberi Fiza uang untuk membayar biaya sekolah apalagi untuk sekedar membeli buku tulis. Selain kekejaman itu Fiza di rumah diperlakukan layaknya seorang pembantu, memasak, menyuci, mengurusi semua kebersihan di rumah.
Namun Fiza tetap bersahaja dan memaafkan kesalahan mereka meski mereka tak pernah sekalipun merasa salah. Fiza mengerjakannya semua tanpa beban.
Karena ibunya tidak memberi uang untuk membayar biaya sekolah, maka setiap pulang sekolah, ia memb antu Pak Wito, penjaga kantin disekolahnya untuk sekedar membantu membereskan dagangan dan mencuci piring. Dari situlah Fiza mendapatkan uang untuk membiayai diri dan sekolahnya.sungguh pak Wito yang bukan sanak saudaranya sama sekali ini malah sangat menyayangi Fiza, begitu pula dengan istri Pak Wito. Fiza sudah dianggap menjadi anak mereka sendiri, karena kebetulan Pak Wito tak mempunyai anak.
Sepulang membantu Pak Wito ia tak lupa mengajari mengaji anak-anak di sebuah Masjid, ia ikhlas mengajari tanpa ada yang membayar, karena ia tahu bahwa Allah-lah yang akan memberi balasan di akhirat kelak...
Sepulang membantu mengaji ia tak lantas bersantai-santai, di rumah banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan, sperti menyapu, menyuci baju ibu dan saudara-saudara tirinya.
Pernah ketika Fiza sedang sakit dan tak sanggup menyuci, ia dihina habis-habisan oleh ibu tirinya, bahkan Helen pernah mengotori lemari baju Fiza dengan sampah. Namun sekali lagi, Fiza hanya bisa menghela nafas panjang dan tak banyak bicara. Ia tetap bersahaja dan selalu beristiqomah.
Meskipun bebereapa kerudung yang sering ia kenakan untuk bersekolah atau mengajar ngaji dibuang ke sampah oleh saudaranya, Fiza hanya bisa mengelus dada dan berharap Allah mengampuni dosa mereka.
Setiap malam, ia selalu memohon kepada Allah untuk segera menyadarkan kelakuan saudara dan ibu tirinya, tidak hanya kelakuan mereka terhadap Fiza, namun kelakuan mereka yang sering lupa terhadap Allah, mereka jarang sekali sholat, puasa apalagi bersedekah. Bahkan harta milik ayahnya selalu mereka pergunakan untuk berlibur-kesana kemari.
Setelah lulus SMA. Tak disangka Fiza mendapat beasiswa dari sekolahnya untuk melanjutkan sekolahnya di Kairo-Mesir, karena Fiza memang sangat pintar, apalagi tentang keagamaan.
Sedangkan ke dua saudaranya hanya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di tanah air.
Akhirnya, Fiza berangkat ke Mesir dengan hati yang sangat senang. Bukan karena senang ia akan meninggalkan kekejaman dari ibu dan saudara tirinya, namun ia senang telah mendapatkan amanah dari Allah ia senang karena Allah telah mempercayainya untuk berangkat belajar di Mesir, senang karena impiannya sekolah di Mesir kini bukan hanya sekedar angan-angan.
Awalnya ibu dan saudaranya merasa iri dan tdak menyetujui keberangkatan Fiza ini dengan alasan tak tega melepas Fiza. Namun berkat Pak Wito-lah Fiza bisa berangkat. Pak Wito tau bahwa saudara dan ibunya merasa iri, maka dari itu, Pak Wito menceritakan semua perlakuan kejam ibu dan saudara tiri Fiza ke kepala bagian penyalur beasiswa di sekolah tersebut. Akhirnya dengan perjanjian yang berbelit-belit Fiza mendapatkan izin dari Ibu dan saudaranya, meski mereka mengizinkan, namun dibalik itu semua mereka masih menyimpan rasa dendam, beberapa hari sebelum keberangkatan Fiza ke Mesir, Fiza sempat difitnah oleh Helen saudara tirinya, ia dituduh mencuri dompet teman Helen yang kebetulan sedang datang ke rumahnya. Namun karena kuasa Allah Subhanahu Wata’ala, itu semua dapat teratasi.
Saat keberangkatan Fiza, semua terisak menahan tangis, terutama Pak Wito dan istrinya, mereka yang memperhatikan Fiza, menganggap Fiza sebagai anaknya sendiri harus berpisah dari Fiza untuk beberapa tahun yang akan datang, paling tidak 6 tahun.
Setelah Fiza sampai di Mesir ia belajar dengan sungguh-sungguh, karena ia tak mau menyia-nyiakan apa yang telah Allah titipkan pada dia.
Selain bersekolah, Fiza juga memperdalam ilmu agama dan tauhid di sana. Dan Alhamdulillah Fiza selalu menjadi pelajar yang terbaik dan selalu dikirim mengikuti olimpiade di Kairo.
Setelah menyelesaikan kulihnya selama 6 tahun, Fiza mendapatkan tawaran untuk bekerja di Kairo, bekerja di sebuah Institute sebagai dosen. Tentu saja ia tak menolak pekerjaan tersebut mengingat banyak sekali yang menginginkan pekerjaan tersebut.
Di kantor barunya tersebut ia mengenal Farhan, seorang yang sekarang menjadi calon suaminya, kebetulah Farhan adalah orang Aceh yang sama-sama mendapat pekerjaan sebagai dosen di Institute di Kairo tersebut, mereka tak lantas pacaran, tak pernah berdua-duaan, karena satu sama lain telah mengerti dan tau persis syariat yang telah ditentukan Allah. Mereka menjalankan ta’aruf dan hanya bertemu jika ada keperluan.
2 tahun berlalu, akhirnya Farhan memutuskan untuk mengajak pulang Fiza ke tanah air untuk menikahinya..
Akhirnya Fiza dan Farhan pulang ke Indonesia, Fiza langsung ke tanah Lampung untuk menemui Pak Wito yang akan ditunjuk Fiza untuk menjadi wali dalam pernikahannya. Dan Farhan pulang ke Tanah Aceh untuk membicarakan pernikhan tersebut dengan keluarganya.
Saat Fiza mendatangi rumah Pak Wito seketika Pak Wito dan istrinya terkejut bahagia melihat kedatangan Fiza, putri kecil mereka sekarang sudah tumbuh dewasa dan akan segera menikah. Dalam perbincangan itu Pak Wito juga mengabarkan bahwa ibu dan saudara tirinya telah meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan dan tragisnya kematian tersebut diakibatkan karena mereka mengendarai mobil dalam keadaan mabuk-mabukan.
Fiza pun menangis lemas mendengarkan cerita bahwa Ibu dan saudaranya meninggal dalam keadaan yang tidak baik. Seketika ia mendatangi makam ibu tirinya tersebut, ia menangis tersedu-sedu mengingat orang yang ia cintai meninggal dalam keadaan yang tidak baik, sungguh betapa Fiza mencintai mereka meskipun Fiza selalu disakiti.
beberapa hari kemudian mereka menikah dengan wali Pak Wito.. pernikahan ala Islami yang sederhana namun khitmat.
Setelah itu Farhan dan Fiza kembali lke Mesir untuk melanjutkan kehidupan mereka disana.
Subhanallah, karena ke Iztiqomahannya, Fiza mendapatkan hal yang tak pernah ia kira sebelumnya.
*Selesai*
Semoga kisah ini menjadi pelajaran untuk kita semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar